Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Permainan yang Harus Dijajal Anak Sebelum Berusia 12 Tahun

Posted by blas 0 komentar
Semakin bertambah umur, anak makin malas bermain di alam. Anak sekarang cenderung lebih suka berkutat di depan TV, komputer atau video game. Ajak anak mengenal 20 permainan ini sebelum ia berumur 12 tahun.

Kadang tak cuma anaknya saja yang enggan bermain di luar, orangtuanya pun punya andil membuat anak malas bermain di luar. Alasannya adalah ketika anak bermain bebas di luar rumah, anak akan lebih berisiko untuk jatuh dan terluka.

Berdasarkan survei di Inggris oleh Play England, dari sekian banyak anak, hanya seperempatnya saja yang pernah bermain bebas di luar, sepertiga tidak pernah memanjat pohon dan sisanya bahkan tidak bisa naik sepeda.

Menurut sebuah laporan yang dibuat oleh National Trust, lebih dari 80 persen dari anak-anak ingin memiliki lebih banyak kebebasan untuk bermain di luar, tetapi yang mendapatkan izin dari orang tuanya hanya kurang dari 10 persen saja.

"Bermain adalah bagian yang penting dalam masa perkembangan anak menjadi menjadi dewasa karena dapat menanamkan ketrampilan," kata Adrian Voce, mantan direktur Play England, Inggris seperti dilansir dari mirror, Kamis (28/6/2012).

National Trust kini telah meluncurkan kampanye untuk mendorong anak mendapatkan kebebasan bermain di luar rumah tetapi masih dalam batas yang aman. Pilihlah permainan alam untuk anak yang akan memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan dan ketrampilannya.

Ada 20 permainan yang bisa dilakukan anak sebelum ia berumur 12 tahun yaitu:
1. Memanjat pohon
2. Berguling menuruni bukit
3. Berkemah di alam bebas
4. Membuat kandang hewan peliharaan
5. Bermain Congklak
6. Berlarian di tengah hujan
7. Bermain layang-layang
8. Menangkap ikan dengan jaring
9. Memetik buah-buahan langsung dari pohon
10. Mencari kerang di pantai
11. Membuat kue dari lumpur
12. Bermain ayunan
13. Menyaksikan matahari terbit
14. Mendaki bukit kecil
15. Bermain di air terjun
16. Memberi makan burung dari tangan
17. Berburu serangga seperti belalang
18. Menangkap kupu-kupu dengan jaring
19. Menanam bunga
20. Bermain masak-masakan di atas tungku batu
sumber

Baca Selengkapnya ....

Hentikan Merokok demi menjaga Kesehatan Ibu dan Anak

Posted by blas 0 komentar
Pentingnya kesehatan ibu dan anak berpengaruh dalam kualitas hidup keduanya, khususnya pada sang anak. Bagi anak hal yang penting untuk tetap dalam kondisi prima tidak hanya kesehatan anak itu sendiri melainkan kesehatan sang ibu yang nantinya menjadi faktor penentu kualitas hidup sang anak. Fakta yang tidak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini semakin banyak ibu yang sedang hamil dan ibu menyusui tidak bisa menghentikan kebiasaannya untuk merokok. Semua orang awam pun tahu bahwa merokok merupakan hal yang jauh dari upaya untuk menjaga kesehatan. Kebiasaan seorang ibu merokok yang seperti itulah yang harus dicegah dan dihentikan.

Resiko Merokok bagi Kesehatan Ibu Menyusui

Kebiasaan merokok yang tidak dapat dihentikan dan ekstrim telah banyak memakan korban baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Kebiasaan ini akan lebih berakibat buruk bila terjadi pada ibu yang sedang menyusui karena akan mengganggu kesehatan ibu dan anak. Dalam hal ini, akan diulas resiko ibu menyusui yang tidak dapat menghentikan kebiasaan merokok. Produksi ASI seorang ibu menyusui akan menurun seiring dengan menurunnya hormon prolaktin yang memacu produksi ASI akibat merokok. Hal lain yang merupakan resiko dari merokok adalah turunnya LDR (Let Down Reflects) yaitu keluarnya ASI dari payudara ibu akibat daya hisap bayi saat menyusu pada ibu. Bila LDR ini menurun maka seberapa banyak pun ASI yang diproduksi seorang ibu akan tetap sulit untuk dikeluarkan. Bila ASI yang diproduksi tidak keluar bukan hanya mempengaruhi kesehatan sang anak melainkan ibu juga akan merasakan payudara nya terasa nyeri. Selain itu karena ASI tetap menumpuk dan tidak bisa keluar, maka hormon yang seharusnya memacu untuk memproduksi ASI tidak akan dikeluarkan karena hormon tersebut mendapat sinyal bahwa ASI dari ibu masih banyak. Akibatnya, semakin lama ASI ibu akan semakin berkurang karena kurangnya hormon tersebut, hingga akibat terburuk ASI tersebut sulit untuk diproduksi.

Resiko bagi Neonatus

Tentunya bagi bayi baru lahir (neonatus) yang notabene sebagai perokok pasif akan lebih mudah terserang penyakit radang paru-paru, asma, bronkitis dan penyakit pernafasan lainnya karena terus-menerus menghisap asap rokok. ASI yang dikeluarkan sang ibu mengandung zat-zat nikotin yang beracun akibat dari rokok. Zat-zat apapun baik itu berasal dari obat, zat kimia, maupun nutrisi akan ikut tersalurkan bersama ASI karena zat-zat tertentu lebih mudah melekat ke dalam protein yang terkandung dalam ASI daripada dalam plasma. Neonatus yang lebih sering terpapar asap rokok kadar HDL dalam darahnya rendah, padahal HDL (kolesterol baik) memegang peranan penting untuk melindungi mereka dari penyakit. Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. Janganlah meremehkan hal kecil yang akan berpengaruh pada masa depan sang anak, karena bulan-bulan awal neonatus untuk mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama merupakan waktu yang sangat krusial.

Pilihan Sang Ibu Demi Kesehatan Ibu dan Anak

Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang ibu yang sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan merokoknya, “Apakah seorang ibu yang merokok boleh menyusui anaknya atau tidak?”.Tentunya, seorang ibu yang hamil dan menyusui tidak seharusnya merokok karena dapat membahayakan sang anak dan diri sendiri. Namun, bila dibandingkan dengan seorang ibu yang merokok tetapi memberikan asupan susu formula tanpa ASI kepada bayi akanlah lebih baik bagi seorang ibu merokok untuk tetap memberikan asupan ASI eksklusif walaupun sedang merokok. Hal ini didasari oleh sebuah penelitian yang menyatakan bahwa ASI dapat menetralisirkan zat-zat racun berbahaya yang ditimbulkan dari asap rokok sehingga dapat mencegah resiko terjadinya penyakit radang paru-paru bagi bayi. Disinilah peran keluarga khususnya suami sebagai pendukung utama untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak.

Baca Selengkapnya ....

Cara Menjaga Kesehatan Anak

Posted by blas 1 komentar
Kesehatan anak merupakan hal penting yang selalu menjadi fokus orang tua. Mereka masih berada dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan di mana dibutuhkan perhatian khusus bagi orang tua. Anak bukanlah bentuk kecil dari tubuh orang dewasa. Fungsi tubuh sangat berbeda dengan orang dewasa.

Asupan Nutrisi

Membicarakan mengenai kesehatan anak, tentunya nutrisi adalah hal yang paling banyak dibahas. Anak masih memiliki tingkat imunitas yang tidak sebaik orang dewasa. Oleh karena itu asupan gizi mereka sudah sepatutnya harus diperhatikan. Menjaga nutrisi yang cukup sesuai dengan usia, berat badan, serta aktivitas akan meningaktkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah diserang penyakit. Selain makanan, asupan multivitamin juga bisa diberikan. Suplemen yang mengandung berbagai vitamin yang dibutuhkan tubuh semasa pertumbuhan dan perkembangan akan membantu pula ketahanan tubuh mereka. Asalkan diberikan secara tepat baik secara komposisi maupun dosis.

Kebersihan Berperan Penting dalam Kesehatan Anak

Selain asupan makanan dan multivitami, kebersihan menjadi hal penentu pula bagi pertumbuhan dan perkembangan buah hati kita. Peran orang tua di sini sangat penting. Bakteri dan virus yang sering mengancam kesehatan anak memang berada di mana-mana. Kondisi lingkungan sangat perlu diperhatikan. Mulai dari kebersihan pakaian, mainan yang biasa mereka pegang, kebersihan orang-orang yang paling dekat, hingga kebersihan makanan harus diperhatikan. Hal ini juga berhubungan dengan imunitas mereka yang belum kuat. Jika kondisi lingkungan anak tidak diatur dan diperhatikan secara baik dan seksama, maka kesehatan tubuh akan terancam. Anak tidak akan mudah menentukan mana yang bersih atau kotor.

Hal yang paling sering menjadi penyebab sakitnya anak adalah faktor makanan. Kebiasaan untuk jajan sembarangan menjadi faktor penting bagi perkembangan ke depannya. Anak yang cenderung jajan sembarangan akan rentan sakit. Mereka harus diajarkan sejak dini bagaimana harus memilih makanan dan minuman mana yang boleh atau tidak boleh dimakan. Lalu diajarkan keharusan untuk cuci tangan memakai sabun sebelum makan. Kebiasaan kecil seperti ini sangat penting demi terciptanya imunitas tubuh yang baik. Ketika kebiasaan hidup bersih ditekankan diharapkan kesehatan anak juga tetap terjaga.

Baca Selengkapnya ....

Kenali Gejala Konstipasi pada Anak

Posted by blas 0 komentar
Konstipasi atau sembelit tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tapi juga anak. Pada bayi, rasa tak nyaman kerap membuat mereka rewel.

DR Eva Jeumpa Soelaeman, Sp. A. (K) dari RS Harapan Kita, mengatakan bahwa secara umum ada dua penyebabnya: kelainan fungsional dan kelainan organik.

Apabila konstipasi terjadi terus menerus, itu artinya terapat kelainan pada usus, anus, maupun saraf usus. Jika itu yang terjadi, artinya anak menderita kelainan organik, dan harus diobati sesuai dengan kelainan yang diderita.

Namun konstipasi juga bisa disebabkan kelainan fungsional. Seperti perubahan pola makan, diet kurang serat, bakteri dalam usus yang tidak seimbang, posisi BAB yang salah, motilitas usus terganggu, sampai obat-obatan.

Yang sering terjadi pada bayi, biasanya akibat perubahan pola makan, adanya pergantian dari ASI eksklusif ke makanan pendamping ASI (MPASI). Kemungkinannya, MPASI tidak mengandung cukup serat sehingga pencernaan bayi sulit beradaptasi.

Sedangkan anak-anak yang mulai suka bermain, seringkali menahan buang air besar sehingga kotoran menumpuk. Pada akhirnya, jika anak terus menahan akan menjadi kebiasaan dan jadi susah buang air besar.

Membiarkan konstipasi bisa menyebabkan nyeri dan luka pada anus. Membuat anak trauma buang air besar, dan lebih memilih menahannya. Bahaya lainnya, anak bisa terkena infeksi saluran kencing, suka mengompol, dan cepirit tanpa terasa karena tekanan kotoran yang membusuk dalam perut, keluarnya sebagian atau seluruh dinding rektum, sampai berbagai sindrom penyakit lain seperti feses yang mengandung lemak.

Untuk itu, Anda harus segera meyadari saat anak mulai menunjukkan gejala konstipasi. Apa saja yang dapat dilihat sebagai gejala konstipasi pada anak?

1. Frekuensi BAB jarang Untuk bayi normal yang baru lahir, dalam sehari bisa BAB sebanyak lima kali. Usia dua bulan, frekuensinya menurun menjadi dua kali per hari. Menginjak usia empat tahun, anak akan BAB satu kali per hari. Namun, jika anak tidak BAB sesuai frekuensi normal ini, tidak lantas ia dapat dikatakan menderita konstipasi. Itu terjadi jika frekuensi BAB anak dalam seminggu kurang dari dua kali.

2. Tinja besar dan keras Salah satu citi konstipasi lainnya, bentuk tinja besar dan keras. Menurut konsistensi normal, bentuk tinja bayi baru lahir berupa cairan. Saat usianya mencapai empat bulan, konsistensi tinja mulai memadat, bentuknya seperti odol.

Setelah disapih, bentuk tinja pada anak seperti orang normal, yakni berbentuk pisang. Jika menderita konstipasi, bentuk tinjanya akan besar dan keras. Namun, jika tinja itu mudah keluar dan frekuensinya normal, maka tidak dapat disebut gejala konstipasi.

3. Sakit saat BAB Karena tinja yang besar dan keras, biasanya terjadi karena anak terlalu lama menahannya, maka saat BAB akan terasa sakit. Bisa jadi anus juga ikut nyeri atau luka, sehingga menimbulkan trauma pada anak. Kesempatan berikutnya, ia takut BAB dan justru menahan kotoran lebih lama lagi.

4. Mengejan Mengejan bisa menjadi gejala konstipasi, jika proses mengejannya lebih dari 25 persen fase BAB. Jika sudah mengejan lebih dari 10 menit dan kotoran masih susah keluar, ini tandanya anak Anda menderita konstipasi.

Sebelum konstipasi berakibat lebih fatal pada anak Anda, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter jika Anda menemukan gejala-gejala di atas terjadi pada anak.

Baca Selengkapnya ....

Gejala Leukemia pada Anak

Posted by blas 0 komentar
Hati-hati bila anak sering cepat capek, nafas cepat dan pendek. Bisa jadi anak Anda sedang mengalami gejala leukemia. Leukimia merupakan keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang yang ditandai dengan bertambahnya sel-sel darah putih dengan menifestasi penambahan sel-sel abnormal darah.

Leukemia dapat dibedakan menjadi 2, yaitu leukemia pada anak dan leukemia pada orang dewasa. Untuk orang dewasa biasanya dapat terjadi pada usia di atas 50 tahun, sedangkan leukemia pada anak umumnya menduduki peringkat teratas pada keganasan anak di seluruh dunia hingga mencapai 30-40 persen.



Gejala umum leukemia pada anak adalah:
1. Anemia. Penderita nampak pucat, cepat lelah, nafas cepat dan pendek. Hal ini biasanya disebabkan berkurangnya sel darah merah.
2. Pendarahan di bawah kulit berupa bercak berwarna merah kebiruan.
3. Pendarahan pada gusi, mimisan.
4. Mudah terserang infeksi karena tidak normalnya sel darah putih.
5. Penderita sering demam atau demam berkepanjangan disertai batuk.
6. Nyeri tulang dan sendi.
7. Nyeri perut yang disebabkan pembesaran organ hati, ginjal dan empedu.
8. Pembesaran kelenjar limpa di bawah lengan leher, dada dan sebagainya.
9. Sesak atau kesulitan bernafas.

Bila mengalami gejala di atas, segera bawa anak ke dokter.Sedangkan untuk pengobatannya bisa melalui kemoterapi, transplantasi sumsum tulang belakang, pemberian obat-obatan tablet atau suntik untuk menghentikan produksi seldarah putih yang tidak normal tersebut.
Bisa juga dengan cara transfusi sel darah merah.


Baca Selengkapnya ....
Redesigned by Info Terbaru Original by Bamz | Copyright of tempat cari jodoh. Untuk SEO lebih lanjut kunjungi Trik SEO terbaru.